Laman

Rabu, 05 Februari 2014

Umur 17?

Assalamu'alaikum yaa Ukhti wa Akhi.. 
Kaifa halukum? Semoga kalian selalu dalam lindungan-Nya :)

Cukup lama tak memperbarui blog ini, tak terasa sudah masuk bulan Februari 2014. Yaa, berarti aku akan memasuki usia ke-18, saat ini masih menyandang usia hampir 17 tahun 8 bulan.  Semakin bertambah usia ya berarti..harus semakin dewasa (aku harap begitu). Usia sekian udah masuk bangku perkuliahan menjadi tantangan tersendiri untukku, meskipun tak sedikit yang usianya lebih muda dariku sudah duduk di bangku kuliah juga. Tapi bukan ini yang ingin aku bahas di saat ini.

Usia yang menurutku masuk usia peralihan remaja ke dewasa, ya. Pastinya, bukan hal yang aneh jika banyak hal mengenai masalah ‘hati’ aku temui sudah, dan ini menuntut diri untuk lebih bisa mengendalikannya agar tidak terjerumus ke lubang kemaksiatan (bahasa serem nih). Yaa langsung saja aku bilang masalah cinta. Siapa mengira orang yang berprinsip untuk tak memilih jalan ‘berpacaran’ tak pernah tejerumus dalam masalah cinta? Sedikitpun tidak pernah? Jika aku ditanya soal seperti ini, bohong, bohong banget kalau aku mengatakan tidak pernah mengalami galaunya menjadi remaja yang sudah merasakan hal seperti ini. Merasakan cinta dalam diam, sebenarnya tidak benar-benar diam sih, satu dua orang teman tak jarang menjadi tempat curahan hati ketika hati mendung atau sekedar ingin berbagi cerita. Allah mempertemukanku dengan mereka, sahabat-sahabatku, sebagai salah satu jalan untuk memberikan kasih sayang-Nya kepadaku, i believe it :’) Mereka yang hampir sepemikiran atau seprinsip denganku soal masalah ini, tak jarang kami saling menghibur dan menguatkan. Aku sayang mereka, hal ini menjadi salah satu alasan seharusnya kita tidak menyia-nyiakan sahabat kita.

Seperti yang dikatakan Khalid bin Shafyan Rahimahullah, “Orang paling lemah adalah orang yang tidak mampu mencari teman. Tetapi lebih lemah lagi adalah yang menyia-nyiakan teman yang telah dimilikinya”.

Dan Umar bin Khaththab Radhiyallahu`Anhu berkata, ”Bertemu teman-teman menghilangkan kesedihan. Jika anda dikaruniai oleh Allah ketulusan cinta kepada seorang teman sesama muslim, peliharalah dengan baik”.

Semoga berkumpulnya kami ini disertai cinta kami kepada Allah :’)
Di sekitar Arsy ada menara-menara dari cahaya didalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya, dari wajah-wajah mereka bercahaya mereka bukan para Nabi ataupun Syuhada. Para Nabi dan syuhada iri kepada mereka. Ketika ditanya para sahabat “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah saling bersahabat karena Allah dan saling kunjung karena Allah.” [HR Tirmidzi]

Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. [QS. Al-Hujurat : 10]

Kembali lagi soal cinta. Memang itulah fitrahnya manusia yang memiliki hati, merasakan jatuh cinta itu normalnya. Namun, Islam tetap memberi pagar-pagar dan peringatan-peringatan untuk manusia dalam hal ini. Cinta pun ada status kehalalannya, pastinya Allah memberi setiap aturan itu demi kebaikan makhlukNya sendiri, insyaaAllah :)

Beberapa waktu silam aku menemukan akun twitter @Muslimah_talk yang banyak memberikan motivasi, inspirasi, dan penjelasan-penjelasan lain mengenai wanita dalam Islam terutama, salah satunya mengenai ‘percintaan’. Kemudian aku menemukan sebuah artikel yang berjudul “Ketika Muslimah Patah Hati?” di situs webnya. Tulisan tersebut hampir sama dengan apa yang aku pikirkan dan menjadi pemahamanku juga selama ini. Namun karena khilafku, akupun sering lupa, dan Alhamdulillah Allah mengingatkanku kembali. Semoga artikel berikut dapat memberi manfaat dan motivasi untuk teman-teman dan juga diriku sendiri, semoga selanjutnya dapat istiqomah di jalan-Nya demi meraih keridhaan-Nya.. aamiin :’) Berikut, dikutip dari http://muslimahtalk.com/ketika-muslimah-patah-hati/



Sama seperti jatuh cinta, sebagai seorang muslim dan muslimah yang mengaku mencintai Allah dan Rasullullah, jika patah hati tentu harus pula ditanggapi dengan elegan, anggun dalam koridor islam. Tapi, pada dasarnya, patah hati itu tidak akan ada kalau kita juga tidak terlalu larut dalam perasaan cinta yang tiba-tiba datang. Rasa kecewa tidak akan ada kalau kita juga tidak terlalu larut dalam perasaan harap yang ditujukan untuk seorang manusia. Jika mengaku patah hati, berarti hatinya memang sudah terlalu akut saat jatuh cinta. Tidak menutup kemungkinan hati sudah berangan-angan tidak jelas dan itu menjadi potensi zina hati. Mungkin dosa zina hati menjadi hal yang sangat perlu diperhatikan untuk mereka yang memutuskan untuk tidak berpacaran, dan bisanya hanya suka diam-diam. Cinta bersemai dalam hatinya, diam-diam. Wah, fikirnya dosa zina itu hanya berpotensi untuk mereka yang menjalin hubungan belum halal, tapi ternyata tidak. Godaan setan bisa masuk kapan saja dan kedalam hati siapa saja, tanpa pilih orang.
 Iblis berkata: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). [ QS.7 : 16 – 17 ].
Godaan setan halus dan cerdik sekali, seringkali membuat kita tidak sadar kalau hati sudah berangan-angan hal yang seharusnya belum waktunya. Dan ketika jatuh cinta diam-diam, ini malah akan menjadi ujian terberat untuk mereka yang memutuskan tidak akan menjalin hubungan tidak halal dengan lawan jenis, sebelum ijab kabul diucapkan. Menjadi ujian terberat untuk mereka yang senantiasa mendakwahkan larangan pacaran, ketika jatuh cinta, mereka juga manusia. Godaan tetap datang, jauh lebih kuat. Dosa zina senantiasa tetap mengintai.
 Kembali ke persoalan patah hati. Serupa dengan jatuh cinta, tidak bisa dipungkiri jika patah hati adalah hal yang kita juga tidak bisa hindari sebagai manusia. Siapa sih yang tidak patah hati kalau putus dengan pacar? yang cintanya bertepuk sebelah tangan, si dia lebih memilih menikah dengan yang lain? Atau siapa sih yang tidak kecewa kalau ta’arufnya gagal? Ingat, kamu bukan Tuhan Maha Kuat. Sebagai seorang manusia, kecewa memang wajar. Sakit memang manusiawi. Membuktikan kalau kita masih punya hati. Namanya juga manusia, kan?
Tapi, apa yang membedakan adalah cara menyikapinya. Itu sebabnya ada orang cepat sekali bisa move on, dan ada juga malah masih sibuk menangisi dan meladeni rasa kecewanya itu. Bagaimana sebaiknya menyikapinya?
 “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram”(QS. 13:28)
Tidak ada satu permasalahan apapun, jika dikembalikan lagi pada Allah, maka akan diselesaikan dengan baik. Termasuk patah hati, kecewa, dan lain sebagainya. Seorang muslim dan muslimah seharusnya tidak terlalu larut dalam rasa kecewanya. Sebab, dia selalu ingat masih memiliki Allah dan yakin serta berhusnudzon dengan janji-janjiNya.
 Diputusin pacar? || Santai, itu tandanya Allah sedang menghindarkan kamu dari perbuatan dosa mu sendiri. Dia tidak mau kamu terlalu larut dalam kubangan dosa. Dan sudah sangat sepantasnyalah, kita, kembali menujuNya. Karena Dia merindukan kita dekat denganNya. Ingin kita bertaubat.
Kecewa karena dia lebih memilih yang lain? || Tenang, itu tandanya Allah sedang menghindarkan kamu darinya yang mungkin jika bersamanya keburukannya lebih banyak daripada kebaikannya. Allah lebih mengetahui, sedangkan kita tidak.
 Gagal ta’aruf? || Tidak usah kalut. Harusnya rasa syukur tetap dibesarkan dibandingkan kecewamu. Itu tandanya Allah sedang menyiapkan seseorang yang lebih baik darinya. Insya Allah.
Hati tidak akan terlalu parah patahnya, kalau jatuhnya tidak terlalu keras. Harapan tidak akan terlalu menyakitkan, kalau terbangnya tidak terlalu tinggi. Seorang muslim dan muslimah tidak akan lama tertimpa runtuhan hatinya sendiri, selama ia ingat Allah sedang menyiapkan kisah cerita yang lebih baik dari sebelumnya.
Wallahu a’lam bish-shawab..
 Oleh: Nur Arsy Amelia/@AmeliaArsy

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar